banner here

Gaya Asertif Dinilai Tepat Untuk Mendidik Anak

- 06.39
advertise here

Memiliki anak merupakan suatu anugerah yang banyak di tunggu bagi setiap pasangan yang sudah menikah. Sering kali orang tua salah dalam mendidik anak, padahal seharusnya dalam mendidik anak tidak boleh sembarangan. Karena akan berdampak buruk pada sikap dan perilaku anak. Dalam mendidik anak juga ada beberapa gaya yang dapat di lakukan seperti gaya pasif, agresif, dan asertif. Namun dalam mendidik anak gaya asertif ini lah yang paling tepat. Gaya pasif cenderung memberikan keleluasaan pada anak sehingga orang tua lebih sering menurut pada permintaan anak. Menurut Diena, gaya ini akan membuat anak sulit dikontrol.

"Gaya pasif akan membuat anak sulit dikontrol perilakunya dan akan mudah melawan," kata Diena dalam diskusi Bali Spirit Festival di Jakarta, beberapa waktu lalu. Lain lagi dengan gaya agresif yang membuat orang tua lebih banyak memaksa kehendak dan menekan anak. Salah satu contoh dari gaya ini adalah kerap memarahi anak baik fisik atau verbal. Menurut Diena, gaya agresif memiliki dampak yang berbahaya karena anak dapat menjadi tertutup atau justru mencari pelarian untuk melampiaskan emosinya. "Anak bisa jadi pendiam dan stress, bisa juga mencari pelarian dengan marah atau membully orang lain," tutur Diena yang juga merupakan pendiri Yayasan Sejiwa. Yayasan ini bergerak dalam perlindungan anak.

Cara yang paling tepat dalam mendidik anak, menurut Diena, adalah gaya asertif atau tegas. Diena menjelaskan gaya ini mengedepankan komunikasi yang saling terbuka antara anak dan orang tua. "Asertif itu ciri-cirinya selalu membuka keran komunikasi dan tidak menghakimi anak tapi mencari win-win solution," ucap Diena. Gaya asertif ini bakal membuat orang tua terus menggali informasi tentang apa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh anak. Cara ini menuntut orang tua untuk lihai dalam bertanya dengan cara yang santun agar dapat mengetahui maksud anak. Diena menyebut pertanyaan yang diberikan kepada anak harus mencakup baik dan buruk serta risiko yang bakal timbul dari perbuatannya. Hal ini memberikan pemahaman yang utuh terhadap perilaku dan tindakan anak. "Dengan menggali informasi anak jadi tahu baik dan buruknya, sehingga dia bisa memutuskan sendiri. Dan belum tentu juga apa yang kita pikirkan buruk untuk anak, ada baiknya didengarkan. Jadi, tidak menutup keran komunikasi," ucap Diena.
Advertisement advertise here

 

Start typing and press Enter to search